Tipe Kepribadian Anak

Koskosanku.com - Tipe Kepribadian Anak

Kenali kepribadian anak, karena berbeda kepribadian, berbeda pula cara penanganan dan cara mendidiknya.

Pepatah mengatakan kalau buah, jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sama juga seperti seorang anak, sifat dasarnya mirip dengan sang orang tua. Namun bukan berarti seorang anak tidak punya kepribadiannya sendiri. Justru orang tua harus jeli melihat kepribadian sang anak. Karena berbeda kepribadian, berbeda pula cara penanganan dan cara mendidiknya.

Kalau Anda masih belum mengetahui secara jelas, seperti apa tipe kepribadian anak Anda, berikut ada beberapa tipe kepribadian anak yang perlu Anda ketahui :

PEMARAH
Merupakan tantangan bagi orangtua, karena tipe pemarah agak sulit. Anak akan mengekspresikan apa saja yang tidak ia sukai atau ia tidak setujui dengan marah. Hal ini tentu harus dikendalikan, karena hampir semuanya diperlakukan dengan marah. Orangtua sebaiknya mengantisipasi apa saja yang bisa membuat ia marah. Saat anak marah lekaslah menengkannya. Anak pemarah biasanya kurang perhatian, oleh karena orangtua harus mulai memperhatikan anak lebih baik dan tulus.

PENDIAM:
Biasanya tidak mempunyai banyak teman alias tak populer dalam pergaulan. Sikapnya cenderung menghindar, menjaga jarak hingga terkesan pasif. Tapi, bukaan berarti ia disingkirkan atau dijaauhi teman, seperti yang dialami anak-anak egois dan pemarah. Bisa jadi karena secara fisik ia lebih kecil/ lemah atau memang tak suka kekerasan yang kerap disalahartikan orang lain sebagai penakut. Tipsnya, tak usah bersikap gemas. Tak usah pula kelewat melindunginya dengan turun tangan membelanya setiap kali dijadikan bulan-bulanan. Tapi cobalah secara perlahan libatkan anak pada lingkungan berbeda dan teman yang lebih variatif. Dengan demikian ia akan menemukan  alternatif perlakuan yang berbeda pula.

HANGAT/BERSAHABAT:
Termasuk “easy going child”. Biasanya tampil dalam sikap ramah yang menunjukan kemampuan bersosialisanya berkembang baik. Kemampuanya berbahasa pun berkembang baik. Anak seperti ini, cukup dampingi dan dukung “prestasinya”. Namun jangan lupa untuk senantiasa mengingatkan anak (tanpa kesan menakut-nakuti) agar ia tetap waspada dengan tidak mengobral sikap bersahabatnya pada orang-orang yang belum dikenalnya.

KERAS KEPALA:
Menghadapi anak ini, orang tua jangan mudah terpancing. Semakin orang tua terpancing, yang muncul justru perilaku ” temper tantrum”. Gampang tersinggung bila harapan/kemauan tidak terpenuhi. Mudah frustasi saat menghadapi hal-hal diluar rutinitas atau kemauannya. Kemungkinan besar sejak kecil ia jadi sosok yang dinomorsatukan, tidak terasah kemampuanya berempati dan egosentris. Beri contoh kongkret dan gali keinginannya/tuntutan anak mengapa ia bertahan dengan sikap/pendapat itu. Beri pula pengertian, apa yang boleh dan tidak serta bagaimana cara mendapatkanya. Ajak anak untuk bersikap realistis, sedikit demi sedikit singkirkan kalimat “pokoknya” dalam kehidupan anak. Jangan malah terbiasa mencap yang justru membuat anak mempersepsikan dirinya sesuai pembelaan orang tua, “Oh, saya memang keras kepala”.

EGOIS:
Ajarkan berbagi seperti membagi permen atau roti ke adik/kakak atau teman. Egois muncul karena anak takut pekerjaannya tidak selesai. Misalnya, lem terus dipegangi seakan miliknya, hingga teman lain terhambat sementaraa dia bisa selesai duluan.

PEMALAS:
 Sebetulnya tak ada anak pemalas. Bisa jadi bermula dari penempelan label oleh orang tua dan lingkungan pada anak. Anak yang selalu dibantu, terbiasa malas berinisiatif dan menyelesaikan tugasnya. Jadi ia malas karena orang tua/lingkungan mengkondisikan demikian. Contohnya, dengan selalu main perintah kepada pembantu, bisa juga karena ia selalu dilarang tiap kali mau beraktifitas atau bereksplorasi, bahkan tak jarang malah dimarahi. So, anak jadi malas untuk bereksplorasi dan melakukan sesuatu. Tipsnya, ketahui penyebabnya agar mudah diarahkan. Tekadkan untuk lebih introspeksi diri. Secara perlahan ubah kebiasaan buruk seperti bermalas-maalasan, selalu main perintah, dan selalu memberikan tanggapan negatif pada apa yang dilakukan anak. Jangan manjakan anak secara berlebihan. Biasakanlah anak menyukai segala bentuk aktifitas kehidupan.

GAMPANG NGAMBEK:
Jangan kabulkan apa yang sebelumnya kita larang hanya karena tak mau repot. Jika tidak, anak justru merasa perilakunya mendapat penguatan, sehingga ia akan menerapkannya dalam banyak hal. Dengan demikian harus ada tindakan antisipasif, caranya lakukan teguran secara bertahap dan hadapilah dengan sikap sabar.

PERFEKSIONIS:
Bisa disebabkan tuntutan orang tua pada anak terlalu tinggi. Padahal, tiap anak punya bakat dan kemampuan masinh-masing, punya inteligensi dan temperamen yang berbeda. Orang tua tak bisa menuntut anak melakukan sebagus anak lain atau saudaranya yang memang berbakat. Tanamkan padanya, ia tak selalu harus jadi juara. Kala anak tengah bersedih saat gagal, orang tua harus bisa mengendalikan emosi anaknya. Ajakia bicara, katakan bahwa inilah kenyataan hidup, tidak selamanya ia menang dan sukses terus.

PASIF:
Anak pasif lebih lamban dan tidak banyak semangat terlihat pada dirinya. Anak ini terkesan serba lamban dan cenderung perlu banyak motivasi maupun dukungan dari lingkungan untuk bergerak, hingga relatif tergantung pada si pembujuk. Biasakan anak dalam rutinitas. Misalnya, harus bangun lebih pagi. Ingat, dia bukan pemalas atau bodoh, tapi semata-mata karena lelet. Lakukan pendekatan kekeluargaan. Libatkan secara aktif dalam kegiatan keluarga dan permainan yang seru. Buatkan jadwal rutinitas untuknya sehingga bisa memicu pikiran aktif. Selalu memberi dukungan dalam kegiatannya, meskipun sedikit. (gal/bbs/kos)

 
Komentar Anda
ADVERTISEMENT
Koskosanku.com

Artikel Lainnya